Langsung ke konten utama

Ini Lho, Saya. Anda? @kangwiguk



Judul postingan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, justru sebaliknya, judul ini untuk menampar diri saya sendiri, kenapa hingga detik ini belum juga melakukan lompatan besar guna mencapai sesuatu yang besar. Toh, sebagai manusia saya juga dikaruniai dengan bekal potensi yang luar biasa, sebagaimana Anda. Mengapa?

Steve Jobs, salah satu legenda dunia dalam bidang teknologi, pendiri dan CEO Apple inc pernah mengatakan, "Saya orang yang sangat percaya terhadap kesempatan yang sama sebagai lawan dari hasil yang sama. Saya tidak percaya hasil yang sama sebab sayangnya hidup tidak seperti itu. Dunia akan sangat membosankan jika seperti itu. Tapi saya benar-benar percaya pada kesempatan yang sama. Kesempatan yang sama bagi saya lebih dari apapun yang berarti pendidikan yang hebat." (Hermawan Aksan, 2009).



"
Steve Jobs, "Kesempatan yang sama bagi saya lebih dari apapun yang berarti pendidikan yang hebat."

Artinya, saya, Anda, dan kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan sesuatu yang dahsyat, sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan ini. Lompatan besar untuk mencapai sesuatu yang besar dengan manfaat yang besar bagi kelompok manusia yang besar pula. Seluruh alam semesta. Bekal potensi itu sudah ada, dan saat ini - bahkan jauh sebelumnya - telah menunggu untuk dikembangkan dan digunakan dalam upaya menggapai kesuksesan sebagaimana harapan kita masing-masing. Sayangnya, hingga detik ini sebagian besar potensi tersebut belum kita gunakan sebagaimana mestinya. Mengapa?

Persoalan yang sangat mendasar, sesungguhnya bukan pada bisa atau tidak bisa? Mampu atau tidak mampu? Melainkan pada kemauan, MAU atau TIDAK?! Ini lho yang ingin saya katakan pada diri saya sendiri. Kritik pedas untuk menampar diri saya hingga berkali-kali, semoga segera "siuman" dari ketidaksadaran selama ini.
Bagaimana dengan Anda?!


Salam,
@kangwiguk



Komentar

Postingan populer dari blog ini

2 Rahasia Sukses Andrie Wongso @kangwiguk

Andrie Wongso, "Sang Pembelajar" Saya yakin, Anda pun tahu siapa Andrie Wongso yang saya maksud dalam judul di atas. Yapp! Anda sama sekali tidak salah. Beliau adalah motivator no. 1 di Indonesia. Beliau lahir dari keluarga miskin di Malang pada tanggal 6 Desember 1954 dan telah lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses. Kemauannya yang kuat untuk berbagi, semangatnya yang luar biasa, dipadu dengan pengalaman yang beragam, serta kebijaksanaan yang dimilikinya telah mengantarkan ia sebagai The Best Motivator Indonesia. Meski begitu, Beliau lebih suka jika disebut sebagai "Sang Pembelajar". Benar-benar sosok yang rendah hati 'kan?! Dan kabar baiknya, baru-baru ini Beliau telah memberitahukan kepada khalayak banyak mengenai rahasia kesuksesannya itu. Dan kini, saya turut membagikan rahasia kesuksesannya itu kepada Anda dengan harapan Anda bisa meraih kesuksesan sebagaimana kesuksesan yang telah Beliau raih beserta orang-orang sukses lainnya ...

Nyawa @kangwiguk

Sudah mafhum kita mengerti bahwa hidup manusia ditentukan oleh nyawa yang melekat pada badan ini. Tanpa adanya nyawa, mustahil manusia bisa hidup; bergerak, berbuat, berkehendak, makan, minum, dan lain sebagainya. Nyawa adalah nafas kehidupan setiap mahluk di semesta ini. Oleh karenanya dikatakan bahwa setiap yang bernyawa dikatakan hidup dan setiap yang telah kehilangan nyawa disebut mati, meskipun secara fisik masih utuh dan lengkap. Nyawa menjadi hal penting dan utama dalam kehidupan setiap individu. Dalam berjuang untuk menggapai kesuksesan pun dibutuhkan ruh atau nyawa yang akan senantiasa menggerakkan kita. “Nyawa” inilah yang akan membuat kita terus bergerak dan bergerak. “Nyawa” inilah yang akan membuat kita selalu bangkit meski berulang kali “badai” memporak-porandakan kehidupan

Orang Hebat @kangwiguk

Dulu, saat saya melamar pada salah satu agen properti di Surabaya dengan membawa selembar ijazah SMA - padahal jelas disitu ditulis 'minimal S-1 dengan IPK min 3.0'' – orang-orang pada mengatakan bahwa saya adalah orang yang hebat dan berani. Padahal saya tidak merasa seperti itu. Justru sebaliknya saya merasa bukan apa-apa karena masih banyak orang lain yang jaaaa...uuhh lebih hebat lagi. Dan salah satunya adalah sahabat saya. (Sebaiknya tidak usah menyebut nama). Menurut kisahnya, ia anak kedua dari enam bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai buruh tani. Menghidupi dan membiayai enam orang anak tentu merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Apalagi dengan pendapatan yang tidak menentu. Tergantung pada ada tidaknya orang yang mempekerjakannya. Jika melihat latar belakangnya itu, bisa tamat SMP tentu sudah prestasi tersendiri bagi sahabat saya itu.