Langsung ke konten utama

Buya Hamka: Kera Juga Bekerja @kangwiguk

Buya Hamka, ulama sastra yang terkenal dengan Tafsir Al-Azhar-nya ini pernah berkata dalam salah satu quotation-nya yang amat masyhur, "Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja."


Sepintas, kata-kata ini terdengar makjleb, langsung menusuk tepat ke relung hati kita. Hamka, mensejajarkan manusia yang kurang memaknai kehidupannya dengan binatang. (Maaf) Babi. Dan mensejajarkan pula, para pekerja yang asal-asalan dalam bekerja dengan kera.

Memang, membaca quotation ini tidak bisa sepintas lalu. Quotation ini harus dibaca dan dipahami dengan kedalaman dan kejernihan hati. Bukan dengan emosi. Beliau ingin menyampaikan kepada kita
bahwa hidup ini teramat sangat berharga. Maka jangan sia-siakan kehidupan Anda. Lakukan dan berbuatlah yang terbaik pada kehidupan Anda. "Sekali berarti. Sudah itu mati!" Kata penyair Chairil Anwar.

"
Loyalitas Anda pada pekerjaan tidak diukur dengan seberapa lama Anda telah bekerja, melainkan dengan satu pertanyaan sederhana, "Kontribusi apa yang sudah Anda berikan pada pekerjaan dan profesi Anda tersebut?"

Artinya, warnailah dunia Anda dengan kebaikan. Hiasilah kehidupan Anda dengan kebajikan. Karena hanya dengan melakukan kebaikan itulah hidup Anda menjadi lebih berarti dan bermakna. Kontribusi positif yang Anda berikan pada dunia itulah yang akan dicatat dengan tinta emas sepanjang sejarah manusia.

Pun demikian dalam menyikapi profesi dan pekerjaan Anda. Loyalitas Anda pada pekerjaan tidak diukur dengan seberapa lama Anda telah bekerja, melainkan dengan satu pertanyaan sederhana, "Kontribusi apa yang sudah Anda berikan pada pekerjaan dan profesi Anda tersebut?"

Jadi, mari kita tengok pada diri sendiri, jika selama ini kita hanya "nunut urip" pada perusahaan, maka saatnya sekarang kita rubah mindset kita, rubah cara pandang kita, lakukan aktivitas kerja dengan sepenuh hati, berilah kontribusi positif pada pekerjaan Anda. Percayalah! Tuhan tidak akan pernah lupa pada apa yang telah Anda kerjakan. Bukankah Tuhan tidak pernah ingkar janji?

Salam,
@kangwiguk




Komentar

Postingan populer dari blog ini

2 Rahasia Sukses Andrie Wongso @kangwiguk

Andrie Wongso, "Sang Pembelajar" Saya yakin, Anda pun tahu siapa Andrie Wongso yang saya maksud dalam judul di atas. Yapp! Anda sama sekali tidak salah. Beliau adalah motivator no. 1 di Indonesia. Beliau lahir dari keluarga miskin di Malang pada tanggal 6 Desember 1954 dan telah lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses. Kemauannya yang kuat untuk berbagi, semangatnya yang luar biasa, dipadu dengan pengalaman yang beragam, serta kebijaksanaan yang dimilikinya telah mengantarkan ia sebagai The Best Motivator Indonesia. Meski begitu, Beliau lebih suka jika disebut sebagai "Sang Pembelajar". Benar-benar sosok yang rendah hati 'kan?! Dan kabar baiknya, baru-baru ini Beliau telah memberitahukan kepada khalayak banyak mengenai rahasia kesuksesannya itu. Dan kini, saya turut membagikan rahasia kesuksesannya itu kepada Anda dengan harapan Anda bisa meraih kesuksesan sebagaimana kesuksesan yang telah Beliau raih beserta orang-orang sukses lainnya ...

Nyawa @kangwiguk

Sudah mafhum kita mengerti bahwa hidup manusia ditentukan oleh nyawa yang melekat pada badan ini. Tanpa adanya nyawa, mustahil manusia bisa hidup; bergerak, berbuat, berkehendak, makan, minum, dan lain sebagainya. Nyawa adalah nafas kehidupan setiap mahluk di semesta ini. Oleh karenanya dikatakan bahwa setiap yang bernyawa dikatakan hidup dan setiap yang telah kehilangan nyawa disebut mati, meskipun secara fisik masih utuh dan lengkap. Nyawa menjadi hal penting dan utama dalam kehidupan setiap individu. Dalam berjuang untuk menggapai kesuksesan pun dibutuhkan ruh atau nyawa yang akan senantiasa menggerakkan kita. “Nyawa” inilah yang akan membuat kita terus bergerak dan bergerak. “Nyawa” inilah yang akan membuat kita selalu bangkit meski berulang kali “badai” memporak-porandakan kehidupan

Orang Hebat @kangwiguk

Dulu, saat saya melamar pada salah satu agen properti di Surabaya dengan membawa selembar ijazah SMA - padahal jelas disitu ditulis 'minimal S-1 dengan IPK min 3.0'' – orang-orang pada mengatakan bahwa saya adalah orang yang hebat dan berani. Padahal saya tidak merasa seperti itu. Justru sebaliknya saya merasa bukan apa-apa karena masih banyak orang lain yang jaaaa...uuhh lebih hebat lagi. Dan salah satunya adalah sahabat saya. (Sebaiknya tidak usah menyebut nama). Menurut kisahnya, ia anak kedua dari enam bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai buruh tani. Menghidupi dan membiayai enam orang anak tentu merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Apalagi dengan pendapatan yang tidak menentu. Tergantung pada ada tidaknya orang yang mempekerjakannya. Jika melihat latar belakangnya itu, bisa tamat SMP tentu sudah prestasi tersendiri bagi sahabat saya itu.