Langsung ke konten utama

Kemauan @kangwiguk


Gilang (5), anak saya, memiliki kebiasaan bangun tidur sekitar jam tujuh pagi. Untuk dibangunkan sebelum jam tersebut susahnya minta ampun. Bahkan pernah ada satu kejadian, ia kami “paksa” untuk bangun lebih awal karena akan pergi ke luar kota. Maksud kami, agar segera hilang rasa kantuknya, ia dimandikan oleh bunda-nya. Tapi, apa kemudian yang terjadi? Begitu selesai ia mengenakan baju, beberapa saat kemudian, saya mendapati ia kembali tertidur pulas – rupanya ia meminta kembali “jatah” waktu istirahatnya yang belum usai.

Tapi, kejadian kemarin benar-benar diluar kebiasaannya. Sebelum tidur ia dikasih tahu terlebih dahulu bahwa besok pagi-pagi sekali harus bangun tidur karena akan pergi ke rumah eyangnya di Jombang. Lah dalah, tepat adzan
subuh berkumandang ia sudah terbangun, bahkan ia yang membangunkan kami sambil berkata lirih, “Jadi ke rumah uti ya?!” Rupanya ia memendam suatu keinginan yang kuat untuk bisa pergi ke rumah eyangnya sehingga hal itu membuat alam bawah sadarnya “bekerja”.

"Kemauan akan melahirkan sikap pantang menyerah dan tahan uji."

Dari frase di atas kita bisa mengambil inti pelajarannya. Bahwa kemauan yang kuat akan selalu melahirkan tindakan-tindakan nyata sebagai wujud apresiasi atas kemauan kita itu. Dengan kata lain, kemauan yang kuat akan merubah hal biasa menjadi sesuatu yang luar biasa, yang awalnya tidak bisa menjadi bisa. Dari yang tidak mampu menjadi mampu. Karena kemauan akan membuat seseorang senantiasa memperbaiki proses demi prosesnya. Ia tidak rela jika keinginannya tidak tercapai. Bagi mereka, jika ia mengalami kegagalan saat menjalani prosesnya maka ia akan bangkit dan kembali belajar untuk menyempurnakan prosesnya hingga apa yang menjadi harapan dan tujuannya tercapai. Atau, dengan kata lain, kemauan akan melahirkan sikap pantang menyerah dan tahan uji. Jadi, jika ada orang yang mengatakan memiliki kemauan untuk menjadi ini atau itu tapi tanpa ada tindakan nyatanya, maka bisa dipastikan bahwa kemauannya itu hanya kemauan semu saja. Bohong besar! Bagaimana menurut Anda?

Salam,
@kangwiguk



Komentar

Postingan populer dari blog ini

2 Rahasia Sukses Andrie Wongso @kangwiguk

Andrie Wongso, "Sang Pembelajar" Saya yakin, Anda pun tahu siapa Andrie Wongso yang saya maksud dalam judul di atas. Yapp! Anda sama sekali tidak salah. Beliau adalah motivator no. 1 di Indonesia. Beliau lahir dari keluarga miskin di Malang pada tanggal 6 Desember 1954 dan telah lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses. Kemauannya yang kuat untuk berbagi, semangatnya yang luar biasa, dipadu dengan pengalaman yang beragam, serta kebijaksanaan yang dimilikinya telah mengantarkan ia sebagai The Best Motivator Indonesia. Meski begitu, Beliau lebih suka jika disebut sebagai "Sang Pembelajar". Benar-benar sosok yang rendah hati 'kan?! Dan kabar baiknya, baru-baru ini Beliau telah memberitahukan kepada khalayak banyak mengenai rahasia kesuksesannya itu. Dan kini, saya turut membagikan rahasia kesuksesannya itu kepada Anda dengan harapan Anda bisa meraih kesuksesan sebagaimana kesuksesan yang telah Beliau raih beserta orang-orang sukses lainnya ...

Nyawa @kangwiguk

Sudah mafhum kita mengerti bahwa hidup manusia ditentukan oleh nyawa yang melekat pada badan ini. Tanpa adanya nyawa, mustahil manusia bisa hidup; bergerak, berbuat, berkehendak, makan, minum, dan lain sebagainya. Nyawa adalah nafas kehidupan setiap mahluk di semesta ini. Oleh karenanya dikatakan bahwa setiap yang bernyawa dikatakan hidup dan setiap yang telah kehilangan nyawa disebut mati, meskipun secara fisik masih utuh dan lengkap. Nyawa menjadi hal penting dan utama dalam kehidupan setiap individu. Dalam berjuang untuk menggapai kesuksesan pun dibutuhkan ruh atau nyawa yang akan senantiasa menggerakkan kita. “Nyawa” inilah yang akan membuat kita terus bergerak dan bergerak. “Nyawa” inilah yang akan membuat kita selalu bangkit meski berulang kali “badai” memporak-porandakan kehidupan

Orang Hebat @kangwiguk

Dulu, saat saya melamar pada salah satu agen properti di Surabaya dengan membawa selembar ijazah SMA - padahal jelas disitu ditulis 'minimal S-1 dengan IPK min 3.0'' – orang-orang pada mengatakan bahwa saya adalah orang yang hebat dan berani. Padahal saya tidak merasa seperti itu. Justru sebaliknya saya merasa bukan apa-apa karena masih banyak orang lain yang jaaaa...uuhh lebih hebat lagi. Dan salah satunya adalah sahabat saya. (Sebaiknya tidak usah menyebut nama). Menurut kisahnya, ia anak kedua dari enam bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai buruh tani. Menghidupi dan membiayai enam orang anak tentu merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Apalagi dengan pendapatan yang tidak menentu. Tergantung pada ada tidaknya orang yang mempekerjakannya. Jika melihat latar belakangnya itu, bisa tamat SMP tentu sudah prestasi tersendiri bagi sahabat saya itu.