Langsung ke konten utama

Meramal Masa Depan @kangwiguk

Bagi seseorang yang berprofesi sebagai marketing atau salesman, seperti saya ini, kata "target" sudah menjadi menu sehari-hari. Tanpa kehadirannya, hidup ini menjadi hambar dan tak jelas ujung muaranya. Hidup menjadi ngglambyar tak terarah. Namun terkadang pula, kata tersebut juga bisa menjelma menjadi buah simalakama, tak dimakan ibu mati, dimakan bapak tiada. Nah lho, repot banget 'kan?! Hehehehe....

Namun, justru disinilah letak dinamikanya. Dari sebuah kata yang terdiri dari 5 abjad ini, T-A-R-G-E-T, kita sebenarnya bisa meramal masa depan kita sendiri. Kelak kita akan menjadi apa dan bagaimana? Lho, bagaimana caranya?


"Target akan membuat kita menjadi lebih terarah dan sanggup melakukan sesuatu dengan benar."

Gampang! Cukup Anda resapi saja kata "target" tersebut jauh ke dalam sanubari Anda. Rasakan dan sekali-kali tanya pada diri Anda sendiri. "Menurut pandangan Anda 'target' itu apa?" Tentu akan ada banyak pandangan yang berbeda - karena beda orang beda cara pandangnya. Namun dari sekian banyak jawaban, saya coba sederhanakan menjadi dua saja, yakni: (1) Mereka yang memandang "target" sebagai beban yang memberatkan; dan (2) Mereka yang memandang "target" sebagai media untuk belajar mengembangkan diri.

Jika Anda condong pada jawaban pertama, maka ramalannya: kemungkinan kecil Anda bisa jadi orang sukses dan besar.  Namun, jika jawaban Anda condong pada yang kedua, maka ramalannya: kemungkinan besar Anda akan jadi orang sukses dan besar. Hehehehe...

Apa hasil ramalan masa depan Anda, Kawan?

Salam,
@kangwiguk






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Hebat @kangwiguk

Dulu, saat saya melamar pada salah satu agen properti di Surabaya dengan membawa selembar ijazah SMA - padahal jelas disitu ditulis 'minimal S-1 dengan IPK min 3.0'' – orang-orang pada mengatakan bahwa saya adalah orang yang hebat dan berani. Padahal saya tidak merasa seperti itu. Justru sebaliknya saya merasa bukan apa-apa karena masih banyak orang lain yang jaaaa...uuhh lebih hebat lagi. Dan salah satunya adalah sahabat saya. (Sebaiknya tidak usah menyebut nama). Menurut kisahnya, ia anak kedua dari enam bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai buruh tani. Menghidupi dan membiayai enam orang anak tentu merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Apalagi dengan pendapatan yang tidak menentu. Tergantung pada ada tidaknya orang yang mempekerjakannya. Jika melihat latar belakangnya itu, bisa tamat SMP tentu sudah prestasi tersendiri bagi sahabat saya itu.

2 Rahasia Sukses Andrie Wongso @kangwiguk

Andrie Wongso, "Sang Pembelajar" Saya yakin, Anda pun tahu siapa Andrie Wongso yang saya maksud dalam judul di atas. Yapp! Anda sama sekali tidak salah. Beliau adalah motivator no. 1 di Indonesia. Beliau lahir dari keluarga miskin di Malang pada tanggal 6 Desember 1954 dan telah lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses. Kemauannya yang kuat untuk berbagi, semangatnya yang luar biasa, dipadu dengan pengalaman yang beragam, serta kebijaksanaan yang dimilikinya telah mengantarkan ia sebagai The Best Motivator Indonesia. Meski begitu, Beliau lebih suka jika disebut sebagai "Sang Pembelajar". Benar-benar sosok yang rendah hati 'kan?! Dan kabar baiknya, baru-baru ini Beliau telah memberitahukan kepada khalayak banyak mengenai rahasia kesuksesannya itu. Dan kini, saya turut membagikan rahasia kesuksesannya itu kepada Anda dengan harapan Anda bisa meraih kesuksesan sebagaimana kesuksesan yang telah Beliau raih beserta orang-orang sukses lainnya ...

Kiat Mengatasi Kejenuhan Kerja @kangwiguk

sumber gbr: gambarrumah.com Jika Anda akhir-akhir ini merasa telah dihinggapi kejenuhan atas berbagai aktivitas kerja yang ada, maka selayaknya Anda untuk segera melakukan evaluasi sebelum kejenuhan itu menurunkan produktivitas Anda, atau bahkan akan menghancurkan karier Anda. Menurut para pakar, kejenuhan seorang pekerja biasanya ditandai dengan menurunnya produktivitas kerja, perasaan malas, dan juga keengganan untuk berlama-lama di tempat kerja. Hal ini ditengarai karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor dari diri sendiri – biasanya ia memiliki masalah pribadi atau keluarga, faktor lainnya adalah hubungan yang kurang harmonis dengan atasan atau rekan kerja lainnya – pekerja merasa diintimidasi oleh atasan, dibanding-bandingkan dengan pekerja lainnya, dan lain sebagainya. Atau bisa juga karena faktor lingkungan, di mana lokasi kerja, tempat ia menghabiskan waktu selama berjam-jam tidak memberikan suasana yang nyaman.