Langsung ke konten utama

@kangwiguk: Aseli, Kesuksesan Tidak Pernah Pandang Bulu

Tahu 'kan whatsapp? Aplikasi chating yang lagi in saat ini. Aplikasi ini sangat menarik dan menjadi pilihan banyak orang karena kemudahannya, bisa didownload secara gratis, serta tanpa iklan di dalamnya tidak seperti aplikasi gratis lainnya. Tapi bukan soal itu pesan yang ingin saya sampaikan di sini, melainkan tentang sosok Jan Koum sebagai pendirinya.

Siapa pernah sangka jika Koum dulunya adalah seorang tukang sapu jalanan di daerah Mountain, Amerika Serikat. Tinggal di sebuah rumah petak
sederhana bersama ibunya, dan hidup dari jaminan lembaga sosial di negara tersebut. Ia pun tak pernah bisa menyelesaikan kuliahnya karena ketiadaan biaya. Meski begitu, ia tak pernah menyerah pada nasibnya hingga kini ia telah menjelma menjadi seorang milioner yang sangat disegani.

"Jangan pedulikan siapa dirimu saat ini, tapi pedulilah pada impian dan masa depanmu."

Di Indonesia, kita pun mengenal sosok seperti Chairul Tanjung, Purdi E. Chandra, Andrie Wongso, Bob Sadino, dan sosok-sosok tangguh lainnya. Mereka percaya dan meyakini bahwa kesuksesan tidak pernah menanyakan, "Apa latar belakang Anda?" karena kesuksesan tidak pernah pandang bulu. Jika engkau mendekati kesuksesan itu maka kesuksesan akan mendekatimu. Dan sebaliknya, jika engkau menjauhi kesuksesan maka kesuksesan pun akan pergi meninggalkanmu.

Jadi, jangan pedulikan siapa dirimu saat ini tapi pedulilah pada impian dan masa depanmu.

Setuju?
Salam,
@kangwiguk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Hebat @kangwiguk

Dulu, saat saya melamar pada salah satu agen properti di Surabaya dengan membawa selembar ijazah SMA - padahal jelas disitu ditulis 'minimal S-1 dengan IPK min 3.0'' – orang-orang pada mengatakan bahwa saya adalah orang yang hebat dan berani. Padahal saya tidak merasa seperti itu. Justru sebaliknya saya merasa bukan apa-apa karena masih banyak orang lain yang jaaaa...uuhh lebih hebat lagi. Dan salah satunya adalah sahabat saya. (Sebaiknya tidak usah menyebut nama). Menurut kisahnya, ia anak kedua dari enam bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai buruh tani. Menghidupi dan membiayai enam orang anak tentu merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Apalagi dengan pendapatan yang tidak menentu. Tergantung pada ada tidaknya orang yang mempekerjakannya. Jika melihat latar belakangnya itu, bisa tamat SMP tentu sudah prestasi tersendiri bagi sahabat saya itu.

2 Rahasia Sukses Andrie Wongso @kangwiguk

Andrie Wongso, "Sang Pembelajar" Saya yakin, Anda pun tahu siapa Andrie Wongso yang saya maksud dalam judul di atas. Yapp! Anda sama sekali tidak salah. Beliau adalah motivator no. 1 di Indonesia. Beliau lahir dari keluarga miskin di Malang pada tanggal 6 Desember 1954 dan telah lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses. Kemauannya yang kuat untuk berbagi, semangatnya yang luar biasa, dipadu dengan pengalaman yang beragam, serta kebijaksanaan yang dimilikinya telah mengantarkan ia sebagai The Best Motivator Indonesia. Meski begitu, Beliau lebih suka jika disebut sebagai "Sang Pembelajar". Benar-benar sosok yang rendah hati 'kan?! Dan kabar baiknya, baru-baru ini Beliau telah memberitahukan kepada khalayak banyak mengenai rahasia kesuksesannya itu. Dan kini, saya turut membagikan rahasia kesuksesannya itu kepada Anda dengan harapan Anda bisa meraih kesuksesan sebagaimana kesuksesan yang telah Beliau raih beserta orang-orang sukses lainnya ...

Kiat Mengatasi Kejenuhan Kerja @kangwiguk

sumber gbr: gambarrumah.com Jika Anda akhir-akhir ini merasa telah dihinggapi kejenuhan atas berbagai aktivitas kerja yang ada, maka selayaknya Anda untuk segera melakukan evaluasi sebelum kejenuhan itu menurunkan produktivitas Anda, atau bahkan akan menghancurkan karier Anda. Menurut para pakar, kejenuhan seorang pekerja biasanya ditandai dengan menurunnya produktivitas kerja, perasaan malas, dan juga keengganan untuk berlama-lama di tempat kerja. Hal ini ditengarai karena beberapa faktor, diantaranya adalah faktor dari diri sendiri – biasanya ia memiliki masalah pribadi atau keluarga, faktor lainnya adalah hubungan yang kurang harmonis dengan atasan atau rekan kerja lainnya – pekerja merasa diintimidasi oleh atasan, dibanding-bandingkan dengan pekerja lainnya, dan lain sebagainya. Atau bisa juga karena faktor lingkungan, di mana lokasi kerja, tempat ia menghabiskan waktu selama berjam-jam tidak memberikan suasana yang nyaman.